Jumat, 29 Januari 2016

Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak

Pengertian
·                     Deteksi dini tumbuh kembang anak / balita adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.
·                     Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan.
·                     Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik(anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak ) sel-sel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel, jadi pertumbuhan lebih ditekankan pada pertambahan ukuran fisik seseorang yaitu menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran beratbadan, tinggi badan, dan lingkar kepala.(IDAI, 2002)
·                     Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat (Depkes RI, 2005).
·                     Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dari struktur / fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirkan, dan diramalkan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ – organ dan sistemnya yang terorganisasi (IDAI, 2002)
·                     Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialasi dan kemandirian (Depkes RI, 2005).

Cara deteksi tumbuh kembang anak
1.Mendeteksi tumbuh kembang pada anak diantaranya :
a. Pengukuran antropometri
·                     Pengukuran antropometri ini dapat meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan , lingkar kepala dan lingkar lengan atas
b. Pengukuran berat badan
·                     Pengukuran berat badan ini bagian dari antropometri yang digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yg ada pada tubuh
c. Pengukuran tinggi badan
·                     Pengukuran ini merupakan bagian dari pengukuran antropometrik yang digunakan untuk menilai status perbaikan gizi di samping factor genetik

2. Pertumbuhan dan perkembangan anak :
·                     Anak pada usia 3-6 bulan mengangkat kepala dengan tegak pada posisi telungkup.
·                     Anak pada usia 9-12 bulan berjalan dengan berpegangan.
·                     Anak pada usia 12-18 bulan minum sendiri dari gelas tanpa tumpah.
·                     Anak pada usia 18-24 bulan mencorat-coret dengan alat tulis.
·                     Anak pada usia 2-3 tahun berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan, melepas pakaian sendiri.
·                     Anak pada usia 3-4 tahun mengenal dan menyebutkan paling sedikit 1 warna.
·                     Anak pada usia 4-5 tahun mencuci dan mengeringkan tangan tanpa bantuan (Depkes RI, 2005).

Tujuan ilmu tumbuh kembang
1.                  Sebagai upaya untuk menjaga dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak baik fisik, mental dan sosial
2.                  Menegakkan diagnosis dini setiap kelainan tumbuh kembang
3.                  Kemungkinan penanganan yang efektif
4.                  Mencari penyebab dan mencegahnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang balita
1). Faktor Herediter
·                     Faktor herediter merupakan factor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak, factor herditer meliputi factor bawaan, jenis kelamin, ras, dan suku bangsa. Pertumbuhan dan perkembangan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan cenderung cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki atau anak perempuan akan mengalami pertumbuhan yang lebih cpat ketika mereka mencapai masa pubertas. (Alimul, 2008 : 11)
2). Faktor Lingkungan
·                     Faktor lingkungan merupakan factor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapai atau tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal (yaitu lingkungan dalam kandungan) dan lingkungan postnatal (yaitu lingkungan setelah bayi lahir)
Faktor lingkungan secara garis besar dibagi menjadi :
1). Faktor lingkungan prenatal
·                     Gizi pada waktu ibu hamil
·                     Zat kimia atau toksin
·                     Hormonal
2)Faktor lingkungan postnatal
a). Budaya lingkungan
·                     Dalam hal ini adalah budaya dalam masyrakat yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, budaya lingkungan dapat menentukan bagaimana seseorang mempersepsikan pola hidup sehat
b). Status sosial ekonomi
·                     Anak dengan keluaraga yang memiliki sosial ekonoi tinggi umumnya pemenuhan kebutuhan gizinya cukup baik dibandingkan dengan anak dengan sosial ekonomi rendah
c). Nutrisi
·                     Nutrisi menjadi kebutuhan untuk tunbuh dan berkembang selama masa pertumbuhan, dalam nutrisi terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air
d). Iklim dan cuaca
·                     Pada saat musim tertentu kebutuhan gizi dapat dengan mudah diperoleh namun pada saat musim yang lain justru sebaliknya, sebagai contoh pada saat musim kemarau penyediaan air bersih atau sumber makanan sangatlah sulit
e). Olahraga atau latihan fisik
·                     Dapat memacu perkembanagn anak karena dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen ke seluruh tubu dapat tertur serta dapatmeningkatkan stimulasi perkembangan tulang, otot, dan pertumbuhan sel lainnya
f). Posisi anak dalam keluarga
·                     Secara umum anak pertama memiliki kemampuan intelektual lebih menonjol dan cepat berkembang karena sering berinteraksi dengan orang dewasa namun dalam perkembangan motoriknya kadang-kadang terlambat karena tidak ada stimulasi yang biasanya dilakukan saudara kandungnya, sedangkan pada anak kedua atau tengah kecenderungan orang tua yang sudah biasa dalam merawat anak lebih percaya diri sehingga kemamapuan anak untuk berdaptasi lebih cepat dan mudah meski dalm perkembangan intelektual biasanya kurang dibandingkan dengan ank pertamanya
g). Status kesehatan
·                     Apabila anak berada dalam kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan untuk tumbuh kembang menjadi sangat mudah dan sebaliknya.contoh apabila anak mempunyai penyakit kronis yang ada pada diri anak maka pencapaian kemampuan untuk maksimal dalam tumbuh kembang akan terhambat karena anak memiliki masa kritis
3). Factor hormonal
·                     Factor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anakantara lain hormone somatotropin, tiroid dan glukokortikoid. Hormone somatotropin (growth hormone) berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilgo dan system skeletal, hormone tiroid berperan menstimulasi metabolism tubuh. Hormone glukokortiroid mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel intertisial dari testis (untuk memproduksi testosteron) dan ovarium (untuk memproduksi estrogen), selnjutnya hormone tesebut menstimulasi perkembangan seks, baik pada anak laki-laki maupun perempua yang sesuai dengan peran hormonnya (wong 2000) (Alimul, 2008 : 13)

Tahap pencapaian tumbuh kembang anak
1. Masa prenatal
·                     Masa prenatal terdiri atas dua fase, yaitu fase embrio dan fase fetus, pada fase embrio pertumbuhan mulai dari konsepsi hingga 8 minggu pertama ,pada minggu kedua terjadi pembelahan sel dan terjadi pemisahan jaringan antara entoderm dan ectoderm pda minggu ketiga terbentuk lapisan mesoderm
2. Masa postnatal
·                     Pertumbuhan atau perkembangan postnatal dikenal dengan pertumbuhan dan perkembangan setelah lahir ini diawali dengan masa neonates (0-28hari) yang merupkan masa terjadi kehidupan yang baru dalam ekstra uteri yaitu adanya proses adaptasi semua sistem organ tubuh. (Alimul, 2008 : 13)

Ciri-ciri tumbuh kembang anak / balita
1. Perkembangan menimbulkan perubahan
·                     Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan misal, perkembangan intelgensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf
2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya
·                     Setiap anak tidak akan bis melewati tahapan sebelumnya misal, seorang anak tidak bias berdiri jika pertumbuhan kaki dan tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat karena perkembangan awal merupakn masa kritis untuk menentukan perkembangan selanjutnya
3. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
·                     Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatn yng berbeda baik perkembangan fisik maupun fungsi organ
4. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
·                     Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.
5. Perkembangan mempunyai pola yang tetap
·                     Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut 2 hukum:
1.                  Perkembangan terjadi dahulu di daerah kepala kemudian menuju arah anggota tubuh
2.                  Perkembang antropometri terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembng ke bagin distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimosdital)
6. Perkembangan memiliki tahap yan berurutan
·                     Misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak anak mampu berdiri sebelum berjalan.(Depkes, 2005 : 4)

Aspek pertumbuhan dan perkembangan anak
Ada 4 aspek tumbuh kembang yang perlu dibina atau dipantau :
1.                  Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dengan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar sperti duduk, berdiri, dsb
2.                  Gerak halus atau motorik halus adala aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat sperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dsb
3.                  Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dsb
4.                  Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dsb (Depkes, 2005)






KARTU MENUJU SEHAT BALITA
Pengertian
·                     Kartu Menuju Sehat untuk Balita (KMS-Balita) adalah kartu yang memuat data pertumbuhan anak, yang dicatat setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun (Depkes Jawa Timur, 2005)
·                     (Kartu Menuju Sehat) untuk Balita adalah suatu kartu / alat penting yang digunakan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak . (Nursalam, 2005 : 68 ).
·                     KMS yaitu kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indicator perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balitasetiap bulannya dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun (dapat diartikan sebagai rapor kesehatan dan gizi) (Depkes RI, 1996). (Nursalam, 2005 : 68 )

Tujuan penggunaan KMS
1.                  Sebagai alat bantu bagi ibu atau orang tua untuk memantau tingkat pertumbuhan dan tingkat perkembangan yang optimal
2.                  Sebagai alat bantu untuk memantau dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk mewujudkan tumbuh kembang yang optimal
3.                  Mengatasi malnutrisi di masyarakat secara efektif dengan peningkatan pertumbuhan yang memadai (promotivea) (Nursalam, 2005 : 68 )

Manfaat / fungsi KMS
1.                  Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap, meliputi: pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vit A, ASI eksklusif, dan makanan pendamping ASI
2.                  Sebagai media penyuluhan bagi orang tua mengenai kesehatan balita
3.                  Sebagai sarana pemantauan yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi terbaik bagi balita
4.                  Sebagai kartu analisis tumbuh kembang balita (Nursalam, 2005 : 68 ).

Penyuluhan balita yang mengacu pada KMS :
1.                  Jadwal pemberian imunisasi dan manfaatnya
2.                  Cara membina pertumbuhan anak yang baik
3.                  Pemberian ASI eksklusif ( 0-6 bulan )
4.                  Pemberian makanan pendamping ASI untuk bayi diatas 6 bulan sampai 2 tahun
5.                  Merawat kesehatan gigi dan mulut
6.                  Gizi dan pemberian vitamin A untuk balita
7.                  Perkembangan anak dan latihan yang perlu diberikan sesuai dengan usia anak
8.                  Pertolongan pertama pada anak diare (Depkes Jawa Timur, 2005)

Isi dari KMS antara lain :
1.                  Tentang pertumbuhan
2.                  Perkembangan anak/Balita
3.                  Imunisasi
4.                  Penanggulangan diare
5.    Pemberian kapsul vitamin A dan kondisi kesehatan anak
6.    Pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI
7.    Pemberian makanan anak/Balita dan rujukan ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
8.    Berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita tentang kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000).

Cara Memantau Pertumbuhan Balita
·                     Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya. Grafik pertumbuhan dalam KMS terdiri dari garis merah, pita warna kuning, hijau tua dan hijau muda. (Depkes RI, 2000)
a). Balita naik berat badannya bila :
1.                  Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna, atau
2.                  Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna diatasnya.
b). Balita tidak naik berat badannya bila :
1.                  Garis pertumbuhannya turun, atau
2.                  Garis pertumbuhannya mendatar, atau
3.                  Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya
c). Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
d). Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak naik (3T), artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
e). Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap bulannya.
f). Balita sehat, jika : Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke pita warna diatasnya.

STIMULASI DETEKSI INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK) PADA ANAK
            Salah satu upaya untuk mendapatkan anak yang seperti diinginkan tersebut adalah dengan melakukan upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak atau yang dikenal dengan nama Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).
            Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0 – 6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Sitimulasi ini dapat dilakukan oleh ibu, ayah, pengganti orang tua (pengasuh), anggota keluarga lain, atau jika si anak telah masuk PAUD maka menjadi tanggung jawab lembaga untuk membantu pendeteksiannya.
            Deteksi adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.
            Intervensi adalah suatu tindakan tertentu pada anak yang mempunyai perkembangan dan kemampuan menyimpang karena tidak sesuai dengan umurnya. Penyimpangan perkembangan bisa terjadi pada salah satu atau lebih kemampuan anak yaitu kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian anak.
            Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik si anak dari waktu ke waktu. Dilihat dari tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala.
            Perkembangan adalah  bertambahnya fungsi tubuh si anak. Meliputi sensorik (dengar, lihat, raba, rasa, cium),  motorik (gerak kasar, halus), kognitif (pengetahuan, kecerdasan), komunikasi / berbahasa, emosi - sosial serta kemandirian.
Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dilakukan di PAUD
Seperti halnya telah di jelaskan diatas bahwa tugas kita sebagi suatu lembaga untuk membantu orang tua mendeteksi dan intervensi terhadap tumbuh kembang anak, khususnya anak didik kita. Sebenarnya ini sudah menjadi kewajiban kita memanatu perkembangan anak secara berkala, dan memasukkannya kedalam program sekolah.

Umur anak dalam pendeteksian (SDIDTK)
Tidak semua umur anak bisa dilakukan pendeteksian. Anak bisa dideteksi ketika menginjak umur 0 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan, 15 bulan, 18 bulan, 21 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42 bulan, 48 bulan, 54 bulan, 60 bulan, 66 bulan, dan 72 bulan. Usia ini adalah standar usia yang telah ditetapkan.

Jadawal atau waktu pendeteksian anak yaitu :
Anak umur    0 - 1 tahun  = 1 bulan sekali
Anak umur > 1 - 3 tahun  = 3 bulan sekali
Anak umur > 3 - 6 tahun  = 6 bulan sekali
Jika umur si anak belum menginjak usia standar pemeriksaan maka jangan dilakukan pendeteksian, namun tunggu si anak mencapai usia yang ditentukan. Misal jika si anak lahir tanggal 12 Agustus 2009, maka waktu yang tepat untuk pendeteksiannya adalah :
Hitung umur si anak saat ini, dalam contoh anak lahir tanggal 12 Agustus 2009 maka saat ini (12 Juni 2013) usia si anak adalah 46 bulan. Dalam standar usia pendeteksian, 46 bulan tidak termasuk standar usia pendeteksian, sedangkan menurut standar usia adalah 48 bulan. Maka si anak baru bisa di deteksi 2 bulan kedepan atau 60 hari kedepan yaitu pada tanggal 11 atau 12 Agustus 2013.
Satu bulan dihitung 30 hari.
Toleransi kelebihan usia anak pada saat pendeteksian dari usia standar adalah 29 hari kedepan.

Jenis Skrining / Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang
Jenis kegiatan  deteksi atau disebut juga skrining, dalam SDIDTK adalah sebagai berikut :
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dengan cara mengukur Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB) dan Lingkar Kepala (LK).
2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan yaitu meliputi
Pendeteksian menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
Tes Daya Lihat (TDL)
Tes Daya Dengar (TDD)
3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional yaitu menggunakan :
Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME)
Check List for Autism in Toddlers (CHAT) atau Cek lis Deteksi Dini Autis
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)
Untuk lebih jelasnya hubungan antara umur anak dan jenis skrining/pendeteksian dini dari penyimpangan tumbuh kembang dapat dilihat pada gambar berikut :
stimulasi dteteksi intervensi dini tumbuh kembang

DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK
Latar belakang
·                     Mempertahankan kelangsungan hidup anak sampai lima tahun kehidupannya 
·                     Meningkatkan kualitas hidup anak agar tercapai tumbuh kembang optimal pada semua aspek 
·                     Memberikan dukungan pada anak dalam golden period/critical period/window of opportunity 
·                     Jumlah balita yang sangat besar (10% populasi) perlu perhatian yang sangat serius (gizi baik, stimulasi yang adekuat, pelayanan kesehatan yg berkualitas.
·                     Stimulasi yang memadai akan merangsang otak balita. 
·                     Deteksi dini merupakan skrining adanya penyimpangan tumbuh kembang balita dan follow up keluhan orang tua.
·                     Intervensi dini merupakan tindakan koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk perbaikan penyimpangan tumbuh kembang.
·                     Kegiatan ini menyeluruh dan terkoordinasi dalam bentuk kemitraan antara keluarga, masyarakat, tenaga profesional. 

Sasaran
Sasaran langsung: semua anak umur 0 – 6 tahun yang ada di wilayah Puskesmas
Sasaran tidak langsung:
1. Tenaga kesehatan yang ada di lini depan
2. Tenaga pendidik, PLKB, pekerja sosial
3. Petugas sektor swasta dan profesi lain

Tujuan
1. Tujuan Umum : agar semua balita umur 0 - 5 tahun dan anak pra sekolah umur 5 – 6 tahun tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya sehingga berguna bagi nusa dan bangsa serta mampu bersaing di era global melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini.
2. Tujuan Khusus:
Terselenggaranya kegiatan stimulasi pertumbuhan-perkembangan pada semua balita dan anak pra sekolah di wilayah kerja puskesmas.
·                     Terselenggaranya kegiatan deteksi dini penyimpangan pertumbuhan-perkembangan pada semua balita dan anak pra sekolah di wilayah kerja puskesmas.
·                     Terselenggaranya intervensi dini pada semua balita dan anak pra sekolah dengan penyimpangan pertumbuhan-perkembangan.
·                     Terselenggaranya rujukan terhadap kasus-kasus yang tidak bisa ditangani di Puskesmas.

Indikator Keberhasilan
Tahun 2010: 90% balita dan anak pra sekolah terjangkau oleh kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang.

Kegiatannya
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan : pemeriksaan Berat Badan/Tinggi Badan dan Lingkar Kepala.
a. Pengukuran Berat Badan
Tujuannya yaitu menentukan status gizi anak: normal, kurus, kurus sekali atau gemuk.
·                     Jadwal sesuai dengan jadwal deteksi dini 
·                     Pengukuran Berat Badan: timbangan bayi dan timbangan injak 
·                     Pengukuran Panjang Badan atau Tinggi Badan: posisi berbaring dan berdiri 
·                     Penggunaan tabel Berat Badan /Tinggi Badan.
b. Pengukuran Lingkaran Kepala Anak
Tujuan: mengetahui lingkaran kepala anak dalam batas normal atau di luar batas 
·                     Jadwal: 0 – 11 bulan tiap 3 bulan; 12 – 72 bulan tiap 6 bulan.
2. Deteksi dini Penyimpangan Perkembangan: pemeriksaan Kuisioner Pra Skrining Perkembangan, Test Daya Dengar dan Test Daya Lihat.
Skrining perkembangan anak dengan KPSP (Kuisioner Pra Skrining).
Tujuan: mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan 
·                     Jadwal: umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, ..., 72
·                     Alat: formulir Kuisioner Pra Skrining menurut umur dan alat bantu pemeriksaan 
·                     Lain-lain: cek pada buku pedoman 
a. Test Daya Dengar
Tujuan : menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak 
·                     Jadwal: tiap 3 bulan pada bayi umur kurang dari 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan ke atas 
·                     Pelaksana: tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PADU dan petugas terlatih 
·                     Alat: instrumen Test Daya Dengar menurut umur anak, gambar binatang, mainan
·                     Prosedur: cek pada buku pedoman  
b. Test Daya Lihat

·                     Tujuan: mendeteksi secara dini kelainan daya lihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan shg kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar 
·                     Jadwal: setiap 6 bulan pada anak usia pra sekolah umur 36 – 72 bulan 
3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional: Kuisioner Masalah Mental Emosional, CHeclist of Autisim in Todlers, Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas.
a. Deteksi dini penyimpangan mental emosional
Kuesioner Masalah Mental Emosional umur 36 – 72 bulan 
·                     Checklist for Autism in Toddlers umur 18 – 36 bulan 
·                     Formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas menggunakan Abbreviated Conner Rating Scale bagi anak umur 36 bulan ke atas.
·                     Tujuan: mendeteksi secara dini adanya penyimpangan/masalah mental emosional pada anak pra sekolah 
·                     Jadwal deteksi dini : rutin tiap 6 bulan.
·                     Deteksi dini autis pada anak pra sekolah
·                     Tujuan: mendeteksi secara dini adanya autis pada anak umur 18 – 36 bulan 
·                     Deteksi dini gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH)
·                     Tujuan: mengetahui secara dini anak adanya Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas 
·                     Jadwal: bila ada keluhan dari orang tua/pengasuh atau ada kecurigaan nakes kader, BKB, petugas PADU, pengelola TPA dan guru TK.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar