Jumat, 29 Januari 2016

Pelibatan Orang Tua & Masyarakat Dalam Pendidikan Lingkungan Pada Anak Usia Dini


A.    Pengertian Pendidikan Lingkungan pada Anak Usia Dini
Lingkungan merupakan salah satu unsur terpenting yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pengaruh lingkungan pada anak dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kontak anak dengan lingkungannya akan membawa dampak-dampak tertentu, baik berjangka pendek maupun berjangka panjang. Bahkan jika tidak dapat diantisipasi dengan baik, dampak tersebut dapat bersifat sangat fatal pada anak. (Arianti, 2009, hlm. 30)
Agar dapat mengantisipasi pengaruh buruk lingkungan terhadap anak, maka orang tua dan orang dewasa lain (masyarakat) sebagai pendidik, hendaknya dapat memahami dengan baik unsur-unsur lingkungan yang berada di sekitar anak.
Kata “lingkungan” sebenarnya merupakan padanan kata dari environment yang berasal dari bahasa Inggris, di Indonesia kata environment lebih merujuk pada istilah lingkungan hidup atau lingkungan dalam kehidupan, maksudnya adalah sesuatu yang berada di sekeliling organisma dan berpengaruh pada kehidupannya (Mariyana, 2010, hlm. 52).
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 4 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup, Bab I pasal I bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perilaku kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Pendidikan lingkungan harus mampu mendorong terjadinya integrasi kearifan sikap dan perilaku dalam menghadapi masalah yang timbul karena tatanan alam (gempa bumi, meletusnya gunung berapi, dan sebagainya) dengan kerusakan atau kerugian karena perilaku jenis makhluk hidup termasuk manusia. Kemudian harus diintegrasikan pula dalam upaya mengurangi dan memperkecil kerusakan serta pencemaran sebagai akibat perbuatan kita.

B.     Prinsip Penyediaan Lingkungan Sehat untuk Anak Usia Dini
1.    Penyelenggaraan pendidikan lingkungan hendaklah dilakukan secara aktual dan lebih bersifat emergen (Aniyati, 2010, hlm. 35)
Pendekatan emergen dapat dimaksudkan sebagai pendekatan yang menekankan pada ‘kepekaan’ dari orang tua atau orang dewasa lain pada saat penerapan pendidikan lingkungan dengan tindakan-tindakan yang dapat mengamankan anak dari berbagai ancaman atau gangguan yang mencelakai anak atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendekatan emergen menuntut orang tua bertindak dengan segera dalam memenuhi kebutuhan layanan anak.
Pendekatan aktual dan emergen juga mempunyai arti bahwa orang tua dalam memberikan pendidikan lingkungan hendaknya memperhatikan hal-hal dalam lingkungan  sekitar anak yang diminati dan menarik bagi anak. Kedua pendekatan tersebut, yaitu pendekatan aktual dan emergen, dalam konteks pendidikan masa kini lebih dikenal dengan pendekatan kontekstual.
Jika pendekatan aktual dan emergen dapat berjalan dan dilaksanakan dengan baik oleh orang tua, maka akan terdapat beberapa keuntungan yang diantaranya adalah sebagai berikut :
-   Materi yang disampaikan lebih bermanfaat bagi kehidupan anak, dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
-   Anak-anak usia dini akan terhindar dari hal-hal yang membahayakan, terutama terhindar dari hal-hal yang membahayakannya secara fatal.
-    Pendidikan lingkungan akan lebih fleksibel dan dapat diterapkan sesuai kondisi anak di rumah dan lingkungannya.

2.    Penyelenggaraan pendidikan lingkungan hendaklah dilakukan secara terintergrasi atau terpadu
Pendidikan lingkungan yang diberikan kepada anak haruslah dapat membantu pengembangan potensi anak seutuhnya. Jadi pendidikan lingkungan untuk anak usia dini hendaklah memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami lingkungan hidup secara lebih baik dan bermakna. Hal ini sesuai dengan pandangan para ahli, di antaranya adalah pendapat Eliason dan Jenkins (1994), mereka mengemukakan bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak usia dini hendaklah memberi kesempatan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan, baik aspek perkembangan intelektual, dorongan hubungan sosial, perkembangan emosi dan fisik anak.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih konkret, perhatikan contoh berikut :
-   Jika orang tua ingin menganjurkan atau melarang sesuatu, maka hendaklah ia menyampaikannya bersama alasannya. Janganlah menyampaikan segala sesuatu hanya secara dogmatis.
-   Jika ingin menjelaskan suatu konsep tentang lingkungan, maka sedapat mungkin ikuti dengan prakteknya, misalnya menirukan sesuatu.
-   Jika ingin menyuruh sesuatu kepada anak, maka orang tua juga harus melakukan hal tersebut sehingga anak bukan sekedar mengikuti perintah, tetapi juga akan tumbuh rasa empati, kebersamaan dan sebagainya dalam jiwanya.

3.      Penyelenggaraan pendidikan lingkungan hendaklah dilakukan dalam suasana yang menyenangkan atau melalui bermain
Bermain adalah bagian dari perkembangan, hak dan kebutuhan anak. Akan sangat bijak tentunya jika pendidikan lingkungan dilakukan secara menyenangkan, dan sedapat mungkin melalui kegiatan bermain. Dalam hal ini bermain merupakan medium belajar yang baik bagi anak usia dini. Kegiatan bermain memungkinkan pengalaman fisik, interaksi sosial, dan refleksi terjadi secara kombinatif. Dengan bermain, kemampuan memanipulasi langsung, mendengar, melihat, meraba, merasa, menyentuh, melakukan, dapat terfasilitasi. Begitu pula, kemampuan sosialnya, baik berinteraksi dengan teman sebayanya (peer group) maupun dengan yang lebih dewasa (guru, orang tua, pembimbing) ikut terfasilitasi. Kegiatan bermain memungkinkan  terbukanya saluran dan daya-daya yang dimiliki anak, baik saluran visual, auditif, kinestetik maupun ekspresinya sesuai kodrat dan potensinya.

4.      Penyelenggaraan pendidikan lingkungan sebaiknya dikaitkan dengan kehidupan nyata di sekitar anak
Pendidikan lingkungan yang kita berikan kepada anak adalah untuk membantu mereka agar dapat mengisi kehidupannya dengan lebih baik. Untuk itu sangat penting di upayakan bahwa materi pendidikan yang diangkat untuk anak usia dini hendaklah dekat dan berhubungan dengan lingkungan anak. Sangat banyak hal-hal nyata yang dekat dan berada di sekitar anak, mulai dari pakaian yang melekat dan dipakai anak, makanan yang di santap anak, hingga rumah yang ditinggali anak bersama orang tuanya. Anak sejak dini dapat di ajari menjaga kebersihan pakaian yang dipakainya, belajar memilih makanan yang sehat bahkan belajar cara membersihkan rumah dan perabotan yang ada di sekitarnya. Materi-materi tersebut sangatlah berguna dalam meningkatkan kemandirian anak. Pendidikan lingkungan yang berorientasi lingkungan yang terdekat dengan anak, akan menghantarkan anak menjadi warga Negara yang peduli akan diri dan mutu lingkungannya kelak.
5.       Materi pendidikan lingkungan hendaklah disajikan melalui objek (ObjectOriented) dan aktivitas nyata
Anak usia dini adalah pelajar aktif (an active learner). Dalam aktivitasnya mereka senang mengenal, mengidentifikasi, mempelajari obyek, serta keadaan yang bertautan dengan inderanya. Kewajiban kita adalah menyediakan pilihan-pilihan kegiatan belajar bagi anak yang sesuai dengan hakikat dan karakteristiknya. Anak usia dini sangat cocok dengan pola pendidikan lingkungan melalui pengalaman konkret (sentuh dan rasa) yang melibatkan aktivitas fisik-motorik, interaktif serta hal-hal yang bersifat alamiah (child’s nature). Secara sederhana, pendidikan lingkungan yang diberikan oleh orang tua hendaklah mengedepankan pemberian pengalaman langsung yang bersifat kegiatan nyata.

6.      Pendidikan lingkungan hendaklah menjunjung tinggi nilai keamanan agar terhindar dari kecelakaan yang tidak diharapkan
Lingkungan di sekitar anak usia dini tentu amat banyak dan luas, sebanyak dari jumlah objek yang ada di sekitarnya. Semua objek dan material yang ada di sekitar rumah dapat dan potensial menjadi bagian dari materi pendidikan lingkungan bagi anak usia dini. Misal, taman yang ada di halaman rumah akan sangat baik untuk mengajarkan cara menyiram, memberi pupuk, hingga memangkas bagian bunga yang kurang indah. Dalam rangka pendidikan lingkungan pekerjaan-pekerjaan itu dapat diberikan kepada anak. Namun, carilah alat-alat bertaman yang aman dan sesuai kesanggupan anak. Misalnya, alat penyiram bunga yang kapasitas isi airnya lebih sedikit dibanding untuk orang dewasa, untuk memupuk bunga sediakanlah sarung tangan, serta untuk memangkas bunga hendaklah didampingi oleh orang tua.
C.    Sasaran Pendidikan Lingkungan Pada Anak Usia Dini
Pada saat ini lingkungan yang kondusif akan sangat berperan penting pada kehidupan individu untuk menghadapi persoalan dan tantangan lingkungan hidup yang semakin hari semakin banyak dan semakin kompleks. Oleh karena itu, banyak elemen-elemen yang sangat berperan penting dalam menciptakan lingkungan kondusif. Seperti halnya peran pendidik anak usia dini yang bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang kondusif (aman, nyaman, dan menyenangkan) bagi anak didik. Orang tua pun mempunyai peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif karena orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama dalam kehidupan anak, karena dari orang tua lah pertama kali anak mendapatkan pendidikan dan pengajaran, bersama orang tua juga sebagian besar waktu anak dihabiskan sehingga orang tua hendaknya mampu memberikan pendidikan terbaik yang mendukung anak menjadi individu berkualitas. Selain itu, masyarakat pun mempunyai peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak usia dini.
Banyak hal yang harus dilakukan untuk melestarikan lingkungan yang saat ini telah mencemaskan berbagai pihak termasuk orang tua dan masyarakat Indonesia khususnya. Misalnya isu maraknya makanan yang mengandung formalin, boraks, dan lain-lain, yang mengakibatkan adanya kasus anak keracunan makanan, bahkan beberapa kasus menimbulkan kematian.
Dari kasus-kasus yang telah terjadi diatas, perlu kita ketahui betapa pentingnya kita mewujudkan dan menyediakan lingkungan yang sehat untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, karena pada masa ini anak sedang mengalami masa golden age. Dimana pada masa golden age ini anak usia dini perlu diberikan stimulus-stimulus yang diberikan oleh orang dewasa agar anak memahami akan pentingnya pendidikan lingkungan.
Adapun sasaran terpenting pendidikan lingkungan pada anak usia dini adalah : (Arianti, 2009, hlm. 45)
a.       Agar anak usia dini memiliki pengetahuan tentang lingkungan yang lebih baik, sehingga sejak dini konsep-konsep dasar dan wawasan tentang lingkungan melekat pada anak.
b.      Agar anak usia dini memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan hidup secara lebih tepat dan lebih baik.
c.       Agar anak usia dini memiliki kemampuan mengelola lingkungan hidup lebih tepat dan lebih baik.
d.      Agar anak usia dini dapat memanfaatkan lingkungan hidup lebih tepat, wajar dan lebih baik.
e.       Agar pada diri anak usia dini tumbuh kemauan untuk berbuat sesuatu yang baik untuk lingkungan.
f.       Agar anak usia dini dapat menghindari dampak-dampak buruk dari lingkungan  dan pengaruh-pengaruh lainnya yang lebih luas.
Dari sasaran di atas, diharapkan anak dapat memecahkan persoalan-persoalan kritis yang terkait lingkungannya serta sekaligus membantu membentuk ketahanan anak dalam menghadapi kehidupan yang lebih luas dan kompleks di masa depannya. (Arianti, 2009, hlm. 45)
Secara konseptual, berbagai keterampilan anak usia dini yang terkait dengan penguasaan lingkungan diantaranya : (Sujiono, 2011, hlm. 55)
1.    Keterampilan mengamati
a.    Mengamati ciri-ciri alam dan lingkungan yang sehat dan tidak sehat, baik secara fisik maupun sosial-budaya di sekitarnya.
b.    Mengamati berbagai dampak dari pembuangan limbah atau sampah sehari-hari terhadap alam dan lingkungannya.
c.    Mengamati ciri-ciri alam dan lingkungan flora dan fauna yang lestari dan yang rusak atau terganggu.
d.   Mengamati ciri-ciri dari berbagai jenis makanan, minuman dan bahan konsumsi yang dianggap memenuhi standar kesehatan.
e.    Mengamati perilaku orang sehat dan tidak sehat dalam bersikap terhadap alam dan lingkungan anak.
f.      Membaca dan mengenal berbagai petunjuk atau larangan (biasanya dalam bentuk simbol atau lambang) yang terkait dengan kelestarian alam dan lingkungannya, misalnya tanda larangan buang sampah, dilarang memetik bunga, dilarang menembak burung, dan sebagainya.
g.    Membedakan perilaku hemat energi dan air di masyarakat, terutama di sekitar anak.
2.    Keterampilan mengklasifikasi (menggolongkan)
a.    Mengelompokkan alam dan lingkungan yang sehat (alami, seimbang) dengan lingkungan yang tidak sehat ( tercemar atau polusi).
b.    Mengelompokkan alam dan lingkungan yang tercemar atau polusi, seperti polusi air, udara dan tanah.
c.    Mengelompokkan perilaku orang yang hemat air atau energi dalam kelompok masyarakat.
d.   Mengelompokkan limbah atau sampah berdasarkan jenisnya, misalnya : sampah kering dengan sampah basah, sampah organik dengan sampah anorganik, dan sebagainya.
e.    Mengelompokkan berbagai alasan yang menyebabkan terjadinya kerusakan alam dan lingkungan, pencemaran, kemusnahan, dan dampak lainnya bagi kehidupan.
f.     Mengelompokkan makanan sehat dan tidak sehat, terutama yang sehat dikonsumsi oleh anak-anak.
g.    Mengelompokkan cara-cara penanggulangan kerusakan, pencemaran dan kemusnahan alam dan lingkungan, terutama di sekitar anak.
3.    Keterampilan memprediksi (meramalkan)
a.    Memperkirakan dampak-dampak dari perilaku yang tidak sehat, perilaku merusak serta perilaku eksploitasi terhadap alam dan lingkungannya.
b.    Memperkirakan akibat-akibat dari pembuangan limbah atau sampah yang tidak sesuai dengan tempatnya.
c.    Memperkirakan akibat-akibat dari pemakaian kimia dan obat-obatan berbahaya terhadap alam dan lingkungan.
d.   Mengatasi secara sederhana cara-cara menghindari dampak limbah, pencemaran dan perilaku yang tidak sehat dalam kehidupannya, misalnya : menghindari polusi udara dengan menutup hidung menggunakan sapu tangan atau tisu, bila badan atau tangan kotor segera mandi atau cuci, dan sebagainya.
e.    Mengajak ke dokter atau ke puskesmas jika mengalami gangguan kesehatan akibat pencemaran atau dampak negatif alam dan lingkungan.
4.    Keterampilan mengkomunikasikan
a.    Melaporkan hasil pengamatan terhadap peristiwa pencemaran, pendangkalan sungai (oleh sampah) yang ditemukan di sekitarnya, dan sebagainya.
b.    Mengajak teman-temannya untuk berperilaku sehat dan mencintai alam serta lingkungan.
c.    Membuat gambar (poster) tentang kelestarian alam dan lingkungan.
d.   Gemar membaca buku-buku yang memberikan informasi kelestarian alam dan lingkungan hidup.

D.    Pentingnya Pendidikan Lingkungan Bagi Anak Usia Dini
Pendidikan lingkungan hidup berperan penting dalam pelestarian dan perbaikan lingkungan di dunia, dalam mewujudkan hidup yang berkelanjutan. Sebuah tujuan dasar dari pendidikan lingkungan adalah untuk membuat individu dan masyarakat memahami sifat kompleks alam dan lingkungan, yang dibangun dan dihasilkan dari interaksi aspek biologi, fisik, sosial, ekonomi, dan budaya mereka, dan memperoleh  pengetahuan, nilai-nilai, sikap, dan keterampilan praktis untuk berpartisipasi dalam cara yang bertanggung jawab dan efektif dalam mengantisipasi dan memecahkan masalah lingkungan, dan dalam pengelolaan kualitas lingkungan.
Pentingnya pendidikan lingkungan hidup untuk hidup yang berkelanjutan sehingga pendidikan lingkungan hidup harus di terapkan di masyarakat mulai dari usia dini. Setiap sekolah harus bisa mengajak dan memperkenalkan terhadap siswa/siswinya dalam memahami kondisi alam dan masalah alam saat ini. Tujuannya ialah untuk meningkatkan kesadaran agar lebih peka terhadap kondisi alam saat ini. (Syahrin, 2011, hlm. 50)

E.     Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini
1.      Pengaruh Lingkungan Keluarga (Aniyati, 2010, hlm. 65)
Lingkungan memiliki peran penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Khususnya lingkungan keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran ini. Lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan kata lain kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan berdasarkan fitrah, Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya dia yahudi atau nasrani atau majusi”.
Peran keluarga lebih banyak memberikan pengaruh dukungan, baik dari dalam penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif. Sebaliknya, dalam hal pembentukan perilaku, sikap dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku sejenisnya, lingkungan keluarga bisa memberikan pengaruh yang sangat dominan. Di sini lingkungan keluarga dapat memberikan pengaruh kuat dan sifatnya langsung berkenaan dengan pengembangan aspek-aspek perilaku seperti itu, keluarga dapat berfungsi langsung sebagai lingkungan kehidupan nyata untuk memperaktekkan aspek-aspek perilaku tersebut. Selanjutnya, Radin (Mariyana, 2010, hlm. 25) menjelaskan 6 kemungkinan cara yang dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut :
a.       Permodelan perilaku (modelling of behavior)
Baik disengaja atau tidak, orang tua dengan sendirinya akan menjadi model bagi anaknya. Imitasi bagi anak tidak hanya yang baik-baik saja yang diterima oleh anak, tetapi sifat-sifat yang jeleknya pun akan dilihat pula.
b.      Memberikan ganjaran dan hukuman (giving rewards and punishments)
Orang tua mempengaruhi anaknya dengan cara memberikan ganjaran terhadap perilaku-perilaku yang dilakukan oleh anaknya dan memberikan hukuman terhadap beberapa perilaku lainnya.
c.       Perintah langsung (direct instruction)
d.      Menyatakan peraturan-peraturan (stating rules)
e.       Nalar (reasoning)
Pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bisa mempertanyakan  kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orang tua untuk mempengaruhi anaknya.
f.       Menyediakan fasilitas atau bahan-bahan dan adegan suasana (providing materials and settings)
Namun selain faktor tersebut, masih ada penyebab lain yang juga akan sangat berpengaruh mengapa anak memutuskan tindakannya itu, yakni peranan lingkungan rumah, khususnya peranan keluarga terhadap perkembangan nilai-nilai moral anak, yaitu sebagai berikut :
a.       Tingkah laku orang di dalam (orangtua, saudara-saudara atau orang lain yang tinggal serumah) berlaku sebagai suatu model kelakuan bagi anak melalui peniruan-peniruan yang dapat diamatinya
b.      Melalui pelarangan-pelarangan terhadap perbuatan-perbuatan tidak baik, anjuran-anjuran untuk dilakukan terus terhadap perbuatan-perbuatan yang baik, misalnya melalui pujian dan hukuman
c.       Melalui hukuman-hukuman yang diberikan dengan tepat terhadap perbuatan-perbuatan yang kurang baik atau kurang wajar diperlihatkan, si anak menyadari akan kerugian-kerugian atau penderitaan-penderitaan akibat perbuatan-perbuatannya
d.      Kualitas hubungan orang tua-anak
Seiring dengan perubahan-perubahan yang dialami anak, pola dan bentuk hubungan orang tua-anak mengalami perubahan. Perilaku orang tua lazimnya semakin memberi kesempatan kepada anak untuk berbuat secara lebih mandiri.
e.       Gaya pengasuhan orang tua dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak
f.       Persoalan-persoalan keluarga dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak
Banyaknya tuntutan kehidupan yang menerpa keluarga serta bergesernya nilai-nilai dan pandangan tentang fungsi dan peranan anggota keluarga  menyebabkan terjadinya berbagai perubahan mendasar tentang kehidupan keluarga. Permasalahan utama keluarga yang lazim dialaminya, yakni masalah orang tua yang bekerja dan perceraian.

2.      Pengaruh Lingkungan Sekolah
Sekolah telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Di sekolah, mereka bukan hanya hadir secara fisik, melainkan mengikuti berbagai kegiatan yang telah dirancang dan diprogram sedemikian rupa. Karena itu disamping keluarga, sekolah memiliki peran yang sangat berarti bagi perkembangan anak.
Sekolah berfungsi dan bertujuan untuk dapat memfasilitasi proses perkembangan anak secara menyeluruh, sehingga dapat berkembang secara optimal sesuai dengan harapan-harapan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Meskipun tampaknya di sekolah itu sangat dominan dalam perkembangan aspek intelektual dan kognisi  anak, namun sebenarnya sekolah berfungsi dan berperan dalam mengembangkan segenap aspek perkembangan anak.

3.      Pengaruh Lingkungan Masyarakat
Masyarakat merupakan tempat anak-anak hidup dan bergaul, dengan orang dewasa yang juga memiliki peran dan pengaruh tertentu dalam pembentukan kepribadian dan perilaku anak. Disana mereka bergaul, melihat orang-orang beperilaku dan menemukan sejumlah aturan dan tuntutan yang seyogyanya dipenuhi oleh yang bersangkutan. Sehingga, perkembangan anak, dari lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat dapat mendukung perkembangan anak di keluarga maupun di sekolah, begitupun sebaliknya.

4.      Dampak Makanan Beracun Pada Perkembangan Anak Usia Dini
Makanan merupakan salah satu kebutuhan utama dan mendasar bagi setiap manusia, tak terkecuali bagi anak. Makanan yang dikonsumsi oleh anak hendaklah mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh tumbuh kembang anak. Secara umum, zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh terdiri dari makro nutrisi dan mikro nutrisi. Kelompok makro nutrisi terdiri dari karbohidrat, lemak, dan protein yang diperlukan tubuh dalam jumlah besar, sedangkan yang merupakan mikro nutrisi adalah vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit.
Pada saat ini banyak makanan yang mengandung zat-zat berbahaya. Sehingga orangtua harus dapat mengupayakan diri untuk mencari berbagai cara pengelolaan makanan yang sehat dan baik untuk anak. Upaya tersebut biasanya mengarah pada penambahan zat adiktif pada makanan. Zat adiktif sebenarnya adalah zat yang ditambahkan kedalam makanan yang ditujukan untuk memperbaiki nilai gizi, meningkatkan mutu, dan membuat makanan lebih menarik. Namun terkadang sangat disayangkan, niat baik yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu makanan justru terjadi sebaliknya, yaitu mutu makanan menjadi menurun kualitasnya bahkan berpotensi beracun. Hal ini tentu akan berujung pada penyesalan, apalagi jika makanan tersebut dikonsumsi anak usia dini maka dampaknya akan membawa penyesalan yang besar bagi proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

5.      Pengaruh Pencemaran Lingkungan Terhadap Perkembangan  Anak Usia Dini
Pencemaran yang terjadi di lingkungan kita tentulah sangat mencemaskan, karena hal ini akan sangat berdampak pada kesehatan manusia, termasuk anak usia dini. Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapat perhatian lebih, karena berkaitan dengan status kesehatan masyarakat yang dapat berubah, seperti : peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, pembuangan air limbah, penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai, penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan suatu jenis penyakit.
Berbagai macam permasalahan yang terjadi di lingkungan tersebut dapat memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi proses pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Dampak tersebut mengakibatkan banykanya anak-anak yang lahir dengan keadaan fisik yang tidak sempurna, anak-anak banyak yang terjangkit penyakit-penyakit kesehatan, banyak anak yang mengalami sakit yang cukup serius, dan hal tersebutlah yang nantinya dapat membuat tumbuh kembang anak menjadi terganggu. (Aniyati, 2010, hlm. 65)

F.     Peranan Orang Tua dan Masyarakat dalam Menciptakan Lingkungan yang Sehat dan Mendukung Perkembangan Anak Usia Dini
Lingkungan bersih merupakan dambaan semua orang. Namun tidak mudah untuk menciptakan lingkungan kita bisa terlihat bersih dan rapi sehingga nyaman untuk dilihat. Tidak jarang karena kesibukan dan berbagai alasan lain, kita kurang memperhatikan masalah kebersihan lingkungan di sekitar kita, terutama lingkungan rumah. Sehingga dalam hal ini semua pihak harus mengupayakan untuk menjamin kesehatan anak Indonesia. Kenyataan menunjukkan, meski pembangunan kesehatan telah menurunkan angka kematian bayi dan balita Indonesia, angka kesakitan belum turun terutama resiko penularan penyakit.
Tentu saja lingkungan dalam kondisi bersih serta sehat akan membuat para penghuninya nyaman dan kesehatan tubuhnya terjaga dengan baik. Kesehatan tubuh manusia berada pada posisi paling vital. Alasannya tentulah mengarah pada keberagaman kegiatan hidup manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penciptaan lingkungan yang bersih adalah tanggungjawab semua orang termasuk di dalamnya pemerintah melalui kebijakan dan realisasi tindakan nyatanya. Selanjutnya untuk menumbuhkan tanggung jawab tersebut dibutuhkan proses dan juga langkah nyata. Proses dan langkah nyata inilah yang menjadi fokus perhatian kita. Menciptakan lingkungan sehat untuk anak-anak, sudah menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Bukan salah anak jika ia menjadi kegemukan atau malas beraktivitas, hal ini disebabkan karena lingkungan lah yang mengkondisikan mereka menjadi demikian. Aktivitas fisik tak hanya membuat anak sehat, tetapi juga dapat meningkatkan keterampilan sosial, rasa percaya diri, dan prestasi. Lingkungan juga harus menjamin keamanan dan kesehatan anak.
Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, yang dapat diciptakan oleh orangtua maupun masyarakat, yang dapat ditanamkan pada anak sejak usia dini. Langkah-langkah tersebut diantaranya adalah : (Arianti, 2009, hlm. 75)
1.      Memberikan kesadaran tentang arti penting lingkungan yang bersih kepada masyarakat, terutama pada anak-anak agar kesadaran tersebut bisa tumbuh sejak usia dini.
Membiasakan hidup bersih sejak usia anak-anak tentu lebih membuahkan hasil yang luar biasa daripada pembiasaan diri pada usia setelahnya. Alasannya tentu saja berkaitan dengan kesadaran yang berhasil muncul melalui kebiasaan. Anak-anak tidak perlu diperintah ataupun dipaksa untuk senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Mereka diberi contoh dan pemahaman akan pentingnya kebersihan, maka hal itu akan menancap dan dilakukan dengan maksimal dan sebaik mungkin dalam kehidupannya. Mereka akan terus mengingat dengan baik hal positif yang sering dilakukannya dengan kesadaran tanpa adanya rasa takut, khawatir ataupun was-was jika belum berhasil melakukan upaya menjaga kebersihan. Mereka akan terus belajar dan berlatih karena lingkungan sekitarnya memberikan contoh dan pemahaman dengan benar.
2.      Buatlah tempat sampah yang memisahkan antara sampah organik dan non organik.
Hal ini penting dilakukan agar memudahkan upaya untuk menanggulangi timbunan sampah. Jika sampah organik berhasil dipisahkan, maka akan mudah untuk merencanakan langkah positif terhadap sampah. Untuk itu, haruslah dipikirkan cara yang paling tepat untuk dapat mengelola sampah ini termasuk dalam pembuangan mulai dari tahap di rumah tangga sampai di tempat pembuangan terkahir. Atau juga bagaimana cara untuk mendaur ulang sampah agar masih dapat untuk dipergunakan kembali.
3.      Buatlah jadwal rutin untuk melakuan aktivitas pembersihan lingkungan secara terjadwal.
Melalui jadwal, maka kita akan membiasakan diri disiplin menjaga kebersihan lingkungan. Tidak masalah meski ada kendala di tengah pelaksanaannya. Tapi hal penting adalah keseriusan dan keberlanjutan hidup bersih serta sehat.
4.      Buatlah sebuah aktivitas kreatif untuk mengelola sampah non organik menjadi sebuah benda yang bersifat produktif dan bisa menghasilkan uang.
5.      Biasakan pada anak untuk membuang sampah pada tempatnya.
Hal ini akan sangat bermanfaat jika diberikan juga kepada anak-anak, sehingga akan menjadi sebuah pola perilaku yang tercipta di bawah sadar. Seperti yang telah disebutkan bahwa masalah sampah adalah masalah yang klasik. Namun dapat dipercahkan dengan banyak hal yang sederhana. Dengan membiasakan untuk membuang sampah ke tempat sampah yang benar adalah hal awal untuk menanggulangi masalah sampah ini. (Arianti, 2009, hlm. 75)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar